Lewoleba___Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Lewoleba mengikuti kegiatan Zoom Meeting bersama AI READY ASEAN yang diselenggarakan oleh ASEAN Foundation bekerja sama dengan UPTD Tekomdik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (28/1/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Awareness Raising on AI: Building a New Paradigm in Learning, Thinking, and Creating.”
Kegiatan tersebut dipandu oleh PIC Theresia Theni Lewar, S.Kom selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Acara dibuka oleh keynote speech pertama oleh Martina Hatini Bere, SE., MM. selaku Kepala UPTD Tekomdik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar guru dan siswa SMK Negeri 1 Lewoleba mampu beradaptasi dengan perubahan, khususnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), guna mendukung program Pemerintah Provinsi NTT, yaitu NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan dengan slogan Ayo Bangun NTT.
Keynote speech kedua disampaikan oleh Kristina Dudeng, ST selaku Kepala SMK Negeri 1 Lewoleba. Ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT serta AI READY ASEAN atas kesempatan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa guru dan siswa SMK Negeri 1 Lewoleba telah akrab dengan AI, sehingga kegiatan ini menjadi kesempatan penting untuk memperdalam pemahaman AI dalam pembelajaran, terutama bagi generasi Alpha agar mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Sebagai pembicara utama, Risqika Alya Anwar selaku Master Trainer AI READY ASEAN memaparkan enam jenis AI, yaitu AI prediktif, AI klasifikasi, AI rekomendasi, AI pengaturan pola, AI otomatisasi, dan AI generatif. Menurutnya, AI dapat membantu mempercepat pola pikir serta membantu menyelesaikan berbagai permasalahan apabila digunakan secara tepat.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk beradaptasi dan belajar mengikuti perubahan teknologi. Peserta diajak untuk berpikir tentang kesiapan diri dan kompetensi yang perlu dimiliki dalam menghadapi perkembangan AI, mengingat proses pembelajaran kini semakin cepat dengan banyaknya platform digital yang tersedia.
Dalam sesi interaksi, dibahas pula beberapa hambatan dalam pemanfaatan AI, antara lain keterbatasan jaringan internet, kepemilikan perangkat, serta risiko menurunnya daya kritis jika terlalu bergantung pada AI. Oleh karena itu, peserta diingatkan bahwa AI hanyalah alat bantu dan memiliki batasan dalam penggunaannya.

Pada sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan Quick, Draw!, sebuah permainan berbasis web dari Google yang memanfaatkan AI untuk menebak gambar yang dibuat pengguna. Kegiatan ini diikuti dengan permainan interaktif yang melibatkan guru dan siswa. Di akhir pemaparan, Risqika Alya Anwar memperkenalkan aplikasi Hour of AI sebagai salah satu platform yang dapat dimanfaatkan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Melalui kegiatan ini, seluruh peserta, baik guru maupun siswa, akan mendapatkan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.*** (Tim Humas SMKN Nubatukan)


Komentar