Lembata, beritapas – Front Masyarakat Lembata untuk Keadilan (FRONTAL) menemui Uskup Larantuka, Mgr Yohanes Frans Monteiro di Aula Paroki Maria Banneux pada Senin, 16 Maret 2026.
Pertemuan yang dihadiri juga tokoh adat dan tokoh perempuan Atakore ini dalam rangka membahas sikap umat di Stasi Watuwawer yang tegas menolak proyek Geothermal Atadei.
Kepada Uskup Hans Monteiro, FRONTAL dan para tokoh tersebut membeberkan berbagai dugaan manipulasi yang dilakukan sejumlah pihak terhadap umat stasi Watuwawer untuk mendapatkan legitimasi terhadap proyek ini.
“Bentuknya, ada pihak yang mewawancarai tokoh terkait Kamtibmas, namun namun kemudian diberitakan mendukung geothermal. Padahal ia tidak pernah mengatakan mendukung geothermal”, ungkap Philipus Payong, juru bicara FRONTAL.
Menurut Philipus, ada juga bentuk manipulasi yang lain seperti pencatutan nama tokoh adat dan tokoh perempuan yang diungkapkan langsung kepada Uskup Hans Monteiro.
Dia menjelaskan, banyak hal yang dibicarakn dalam pertemuan tersebut termasuk kerentanan Atadei sebagai lokasi pembangunan PLTP Atadei.
“Termasuk penjelasan tentang geologi, geofisika geokimia dan kebencanaan yang tidak tuntas, sementara umat menuntut hal tersebut karena menjadi bagian penting yang harus diketahui warga sebelum tahapan eksploitasi”, ujar Philipus.
Aktivis lingkungan ini juga mengatakan, Uskup Frans Monteiro dalam pertemuan tersebut juga tegas menyampaikan sikap penolakan gereja secara institusi terhadap proyek geothermal. Bahkan ketegasan sikap gereja tidak berhenti pada urusan surat gembala. Gereja telah melakukan sejumlah langkah dan akan terus berjuang.
“Bapa Uskup juga berpesan, umat katolik yang telah dibaptis memiliki tugas profetis, sehingga FRONTAL dan semua umat katolik harus terus memperjuangkan keadilan bagi yang tertindas namun tetap mengedepankan cinta kasih agar tidak menimbul konflik horizontal antara sesama umat”, tutup Philipus. *BP01



Komentar